Rabu, 03 Juni 2009

Pengendali Saklar Jarak Jauh Memanfaatkan Layanan Pesan Singkat Telepon Seluler Dengan Interface Max232

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan jaman, aktivitas manusia semakin meningkat sehingga menyebabkan manusia sering meninggalkan rumah. Dengan kesibukan beraktivitas tersebut, seseorang akan menemui kesulitan mengendalikan peralatan elektronik yang ada di rumah. Misalkan saja bila seseorang bepergian jauh dan pulang larut malam, tentunya sebelum itu ia harus mempersiapkan terlebih dahulu beberapa hal selama kepergiannya. Salah satunya yaitu menyalakan lampu penerangan sebelum bepergian.

Hal tersebut tentunya akan menyita waktu dan akan membuang energi listrik dengan sia-sia. Karena kesibukan itu terkadang orang bisa lupa untuk mematikan peralatan elektronik, karena harus cepat-cepat berangkat kerja. Begitu juga ketika pulang sudah larut malam sedangkan lampu taman atau depan belum ada yang menyalakan, yang apabila dinyalakan terus-menerus bisa dikatakan sebagai tindakan pemborosan, apalagi saat ini tarif listrik sudah merambat naik. Kemungkinan lain adalah jika rumah harus ditinggal keluar kota selama beberapa hari dan tidak ada yang menunggu.

Teknologi yang dapat mengendalikan peralatan elektronik akan memudahkan pekerjaan manusia dan menghemat pemborosan energi yang tidak perlu. Melihat perkembangan teknologi yang ada sekarang, teknologi pengendali peralatan elektronik dari jarak jauh bukan suatu hal yang mustahil. Sudah banyak teknologi yang dikembangkan untumengendalikan peralatan elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk untuk merancang dan membuat prototip pengendali peralatan elektronik dari jarak jauh menggunakan pesan singkat.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan pengendalian saklar elektronik jarak jauh dengan memanfaatkan layanan pesan singkat melalui telepon seluler ini adalah untuk merancang dan membuat prototip pengendali peralatan elektronik dari jarak jauh menggunakan pesan singkat. Alat ini dikendalikan oleh sebuah rangkaian mikrokontroler, rangkaian sinkronisasi, rangkaian sensor, rangkaian relay dan dilengkapi dengan telepon seluler sebagai pemancar dan penerima.

Secara garis besar cara kerja alat ini adalah peralatan penerima mengirimkan data melalui pesan singkat untuk menyalakan atau mematikan peralatan elektronik yang kemudian diterima oleh rangkaian penerima. Data tersebut kemudian dikirimkan ke rangkaian sinkronisasi untuk distabilkan tegangannya setelah itu masuk ke rangkaian pengendali yang telah diprogram untuk menyalakan dan mematikan peralatan elektronik.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Converter Logika MAX232
Jika peralatan yang digunakan menggunakan logika TTL, maka sinyal port serial harus dikonversikan terlebih dahulu ke pulsa TTL sebelum digunakan begitu juga sebaliknya. Converter yang paling mudah digunakan ialah MAX232. Di dalam IC ini terdapat charge pump yang akan membangkitkan tegangan +10 Volt dan -10 Volt dari sumber +5 Volt tunggal. Dalam IC DIP (Dual Inline Package) 16 pin ini terdapat 2 buah transmitter dan 2 buah receiver.

Keterangan mengenai fungsi saluran MAX232 pada konektor DB9 adalah sebagai berikut:
· Receive Line signal detect, dengan saluran ini DCE memberitahukan ke DTE bahwa pada terminal masukkan ada data masuk.
· Receive Data, digunakan DTE menerima data dari DCE.
· Transmit Data, digunakan DTE mengirimkan data ke DCE.
· Data Terminal Ready, pada saluran ini DTE memberitahukan kesiapan terminalnya.
· Signal Ground, saluran ground.
· Ring Indicator, pada saluran ini DCE memberitahukan ke DTE bahwa sebuah stasiun menghendaki berhubungan dengannya.
· Clear To Send, dengan saluran ini DCE memberitahukan bahwa DTE boleh mulai mengirim data.
· Request To Send, dengan saluran ini DCE diminta mengirim data oleh DTE.
· DCE Ready, sinyal aktif pada saluran ini menunjukkan bahwa DCE sudah siap.

2.2 GSM
Pesan singkat merupakan salah satu layanan pesan teks yang dikembangkan dan distandarisasi oleh suatu badan yang bernama European Telecomunication Standards Institute (ETSI) sebagai bagian dari pengembangan GSM fase 2, yang terdapat pada dokumentasi GSM 03.40 dan GSM 03.38. Fitur pesan singkat ini memungkinkan perangkat Stasiun Seluler Digital (seperti ponsel) untuk dapat mengirim dan menerima pesan teks dengan panjang sampai dengan 160 karakter melalui jaringan GSM (ETSI, 1996). Pesan singkat dapat dikirimkan ke perangkat stasiun seluler digital lainnya hanya dalam beberapa detik selama berada pada jangkauan pelayanan GSM.

Lebih dari sekedar pengiriman pesan biasa, layanan pesan singkat memberikan garansi pesan singkat akan sampai pada tujuan meskipun perangkat yang dituju sedang tidak aktif yang dapat disebabkan karena sedang dalam kondisi mati atau berada di luar jangkauan layanan GSM. Jaringan pesan singkat akan menyimpan sementara pesan yang belum terkirim, dan akan segera mengirimkan ke perangkat yang dituju setelah adanya tanda kehadiran dari perangkat di jaringan tersebut.

Dengan fakta bahwa layanan pesan singkat (melalui jaringan GSM) mendukung jangkauan/jelajah nasional dan internasional dengan waktu keterlambatan yang sangat kecil, memungkinkan layanan pesan singkat cocok untuk dikembangkan sebagai aplikasi seperti pager, e-mail, dan notifikasi surat bersuara, serta layanan pesan banyak pemakai. Namun pengembangan aplikasi tersebut masih bergantung pada tingkat layanan yang disediakan oleh operator jaringan (Gupta, 2003).

Dalam proses pengiriman atau penerimaan pesan pendek (pesan singkat), data yang dikirim maupun diterima oleh stasiun bergerak menggunakan salah satu dari 2 pilihan yang ada, yaitu moda teks, atau dengan moda unit data protokol (Wavecom, 2000).

Dalam moda unit data protokol, pesan yang dikirim berupa informasi dalam bentuk data dengan beberapa kepala informasi. Hal ini akan memberikan kemudahan jika dalam pengiriman akan dilakukan kompresi data, atau akan dibentuk sistem penyandian data dari karakter dalam bentuk untaian bit biner.

Senarai unit data protokol tidak hanya berisi pesan teks saja, tetapi terdapat beberapa meta-informasi yang lainnya, seperti nomor pengirim, nomor pusat pesan singkat, waktu pengiriman, dan sebagainya.

Semua informasi yang terdapat dalam unit data protokol dituliskan dalam bentuk pasangan bilangan heksadesimal yang disebut dengan pasangan oktet. Jenis unit data protokol pesan singkat yang akan digunakan adalah pesan singkat-penerimaan dan pesan singkat-pengiriman.
Pesan singkat penerimaan adalah pesan yang diterima oleh terminal dari pesan singkat dalam bentuk unit data protokol. Pada unit data protokol ini, terdapat beberapa meta-informasi yang dibawa, antara lain:
1. Alamat pusat layanan, berisi informasi pusat pesan singkat.
2. Tipe unit data protokol, berisi informasi jenis dari unit data protokol tersebut
3. Alamat asli, berisi informasi nomor pengirim.
4. Pengidentifikasi protokol, berisi informasi identifikasi protokol yang digunakan.
5. Skema pengkodean data, berisi informasi skema pengkodean data yang digunakan.
6. SCTS (Service Center Time Stamp), berisi informasi waktu.
7. Panjang data pemakai, berisi informasi panjang dari data yang dibawa.
8. Data pemakai, berisi informasi data utama yang dibawa.

Unit data protokol pengiriman memiliki informasi yang sama dengan unit data protokol penerimaan, sementara yang berbeda adalah berupa informasi yaitu pada :
1. Referensi pesan, parameter yang mengindikasikan nomor referensi pesan singkat-pengiriman.
2. Alamat tujuan, berisi informasi nomor alamat yang dituju.
3. Periode validitas, berisi informasi jangka waktu validitas pesan pada jaringan.

Perintah AT adalah perintah khusus berkomunikasi dengan telepon seluler, dinyatakan sebagai AT-Command seperti AT+CMGR adalah untuk membaca pesan singkat. Komunikasi datanya mengikuti sebuah aturan yang disebut unit data protokol.

Terdapat delapan judul yang berbeda formatnya antara mengirim dan menerima pesan singkat dan mikrokontroler diprogram untuk dapat mengenali semua judul tersebut.

Perintah AT (Hayes AT) digunakan untuk berkomunikasi dengan terminal (modem) melalui gerbang serial pada komputer. Dengan penggunaan perintah AT, dapat diketahui atau dibaca kondisi dari terminal, seperti mengetahui kondisi sinyal, kondisi baterai, mengirim pesan, membaca pesan, menambah item pada daftar telepon, dan sebagainya. Tabel 1 di bawah ini diperlihatkan beberapa jenis perintah AT yang berhubungan dengan penanganan pesan singkat yang biasa digunakan. berhubungan dengan penanganan pesan singkat yang biasa digunakan.


BAB III
APLIKASI/IMPLEMENTASI

Alat yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah telepon genggam, kartu GSM, rangkaian MAX232, mikrokontroler, perangkat relay, LDR, dan perangkat elektronik seperti rangkaian lampu dan kipas angin. Alat yang dibutuhkan beserta dengan jumlah unitnya dapat dilihat pada Tabel 2.




Telepon genggam penerima harus memiliki perintah AT. Rangkaian ini menggunakan telepon genggam Siemens tipe C35. Percobaan dilakukan dengan merancang rangkaian terlebih dahulu. Rangkaian dirancang menggunakan komponen telepon genggam penerima, rangkaian MAX232, mikrokontroler, LDR, kedua relay, dan peralatan elektronik yang akan dikendalikan.

Telepon genggam penerima dihubungkan ke rangkaian MAX232 menggunakan kabel serial pengisian baterai telepon. Rangkaian MAX232 dihubungkan ke mikrokontroler, dimana mikrokontroler dihubungkan secara langsung dengan LDR dan dengan kedua relay. Satu relay merupakan penghubung ke lampu dan satu relay lagi sebagai penghubung ke kipas angin. Gambar lengkap rangkaian dapat dilihat pada Gambar 2.


Mikrokontroler bekerja sebagai suatu pengontrol dan pengendali dari masing-masing blok yang lain. Input dari pemakai telepon seluler tidak langsung masuk ke mikrokontroler, tapi melewati rangkaian MAX232 terlebih dahulu.

Rangkaian MAX232 menstabilkan tegangan input. Input dari pemakai telepon seluler berupa huruf atau karakter lainnya. Rangkaian MAX232 akan meneruskan input yang diperolehnya ke mikrokontroler setelah distabilkan. Selanjutnya setelah data diterima oleh mikrokontroler maka mikrokontroler akan membandingkan data yang diterima dengan data yang ada pada mikrokontroler, jika benar maka mikrokontroler akan melakukan perintah yang dibuat oleh pemakai telepon seluler. Perintah yang diberikan dalam rancangan ini untuk menyalakan lampu adalah dengan mengetikkan huruf “A” pada telepon seluler, sedangkan untuk mematikan lampu inputnya adalah dengan huruf “C.”
Perintah yang digunakan untuk menyalakan kipas adalah dengan mengetikkan huruf “B” dan untuk mematikannya dengan cara mengetikkan huruf “D.”











Pengujian ini dilakukan beberapa kali, untuk mengetahui kinerja dari rangkaian apakah sudah bekerja dengan baik dan sesuai dengan perancangan. Dari beberapa kali uji coba menggunakan rangkaian, pengendalian lampu dan kipas angin sesuai dengan yang diinginkan. Input “A” yang diketikkan dari telepon pengirim memerintahkan penyalaan lampu. Input “B” yang diketikkan dari telepon genggam pengirim sebaliknya diterjemahkan untuk mematikan lampu, maka lampu selanjutnya akan mati. Input “C” yang diketikkan dari telepon genggam pengirim memerintahkan kipas angin untuk bekerja. Sebaliknya, input “D” yang diketikkan dari telepon genggam pengirim memerintahkan kipas angin untuk berhenti atau menyala. Ringkasan hasil uji coba beberapa kali dapat dilihat pada Tabel 3.




Huruf “A” dan “C” dalam kasus ini dapat disamakan sebagai saklar menyala, sedangkan huruf “B” dan “D” sebagai saklar mati. Beberapa kondisi harus dipenuhi supaya rangkaian ini dapat bekerja dengan baik. Telepon genggam penerima harus memiliki teknologi perintah AT. Saat rangkaian dioperasikan, telepon genggam penerima tidak boleh kehabisan baterai dan tidak boleh sedang diisi baterainya, karena kabel serial yang digunakan untuk pengisian baterai digunakan sebagai kabel penghubung telepon genggam dengan rangkaian MAX232. Telepon genggam penerima harus memiliki pulsa yang cukup untuk mengirimkan pesan ke telepon genggam pengirim, sebagai konfirmasi pelaksanaan tugas. Kotak masuk dan kotak keluar telepon genggam penerima harus kosong.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar